Pernahkah kamu membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa sadar berakhir menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca berita atau menonton video yang membuat cemas? Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling.
Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital, terutama ketika masyarakat memiliki akses tanpa batas terhadap berbagai informasi. Lalu, apa itu doomscrolling dan mengapa kebiasaan ini perlu diwaspadai?
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui internet atau media sosial, meskipun aktivitas tersebut justru membuat seseorang merasa cemas, stres, atau tidak nyaman.
Istilah ini berasal dari gabungan kata doom yang berarti malapetaka atau kehancuran dan scrolling yang berarti menggulir layar. Dengan demikian, doomscrolling artinya aktivitas terus mencari atau membaca informasi yang memicu kekhawatiran secara berlebihan.
Kebiasaan ini sering kali dilakukan tanpa disadari. Seseorang mungkin berniat membuka media sosial selama beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengikuti berita, video, atau komentar yang memicu emosi negatif.
Fenomena Doomscrolling di Era Media Sosial
Fenomena doomscrolling semakin umum terjadi seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan platform digital. Algoritma yang digunakan berbagai aplikasi dirancang untuk menampilkan konten yang relevan dengan minat pengguna sehingga membuat mereka terus berinteraksi.
Doomscrolling tidak hanya terjadi ketika membaca berita buruk. Konten yang memicu kecemasan, rasa takut, atau bahkan perbandingan dengan kehidupan orang lain juga dapat memicu kebiasaan ini.
Fenomena ini juga berkaitan dengan berbagai istilah populer di internet, salah satunya apa itu yapping. Jika yapping menggambarkan kebiasaan berbicara panjang lebar atau berbagi cerita secara antusias, doomscrolling justru merujuk pada kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan yang dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Salah satu contoh yang cukup sering ditemukan adalah doomscrolling TikTok. Berkat sistem rekomendasi yang terus menampilkan video baru, pengguna dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton berbagai konten tanpa sadar.
Hal serupa juga dapat terjadi di Instagram Reels, YouTube Shorts, X, maupun platform media sosial lainnya.
Contoh Doomscrolling
Berikut beberapa contoh doomscrolling yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari:
- Membaca berita negatif secara terus-menerus sebelum tidur.
- Mengikuti perkembangan isu viral hingga berjam-jam.
- Terus melihat komentar atau perdebatan di media sosial.
- Menonton video TikTok tanpa henti hingga lupa waktu.
- Membuka media sosial berulang kali untuk mencari informasi terbaru.
- Terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang dilihat di internet.
Jika dilakukan terlalu sering, kebiasaan ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas.
Dampak Doomscrolling
Dampak doomscrolling tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan.
Beberapa dampak doomscrolling antara lain:
- Meningkatkan stres dan kecemasan.
- Mengurangi kualitas tidur.
- Menurunkan fokus dan konsentrasi.
- Menyebabkan kelelahan emosional.
- Mengurangi produktivitas sehari-hari.
- Membuat seseorang lebih sulit menikmati aktivitas di dunia nyata.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengganggu keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan sehari-hari.

Cara Mengatasi Doomscrolling
Untungnya, kebiasaan doomscrolling dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana.
Batasi Penggunaan Media Sosial
Gunakan fitur pengingat waktu pada smartphone untuk membantu mengontrol durasi penggunaan media sosial setiap hari.
Pilih Informasi dari Sumber yang Terpercaya
Tidak semua informasi perlu diikuti secara terus-menerus. Fokuslah pada sumber yang kredibel dan hindari membaca berita yang sama berulang kali.
Lakukan Aktivitas di Luar Layar
Berolahraga, membaca buku, atau melakukan hobi tertentu dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap media sosial.
Hindari Menggunakan Ponsel Sebelum Tidur
Mengurangi paparan layar sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.
Berbagi Cerita dengan Orang Lain
Ketika merasa cemas atau kewalahan akibat terlalu banyak menerima informasi, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu meredakan beban pikiran.
Terkadang, yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak informasi, melainkan seseorang yang siap mendengarkan. Jika kamu membutuhkan ruang untuk berbagi cerita dengan nyaman, jasa teman curhat dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengekspresikan perasaan dan memperoleh dukungan emosional.
Sementara itu, apabila kecemasan, stres, atau gangguan emosional yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mempertimbangkan bantuan profesional melalui jasa konseling psikolog yang sesuai dengan kebutuhan kamu.
Doomscrolling merupakan kebiasaan yang semakin umum terjadi di era digital. Dengan membatasi penggunaan media sosial dan menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline, kesehatan mental dapat tetap terjaga sehingga kualitas hidup pun menjadi lebih baik.
FAQ
Doomscrolling adalah kebiasaan membaca atau mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus di internet hingga memicu stres atau kecemasan.
Doomscrolling artinya aktivitas menggulir media sosial atau membaca berita negatif secara berlebihan tanpa disadari.
Dampak doomscrolling meliputi meningkatnya stres, gangguan tidur, kelelahan emosional, serta menurunnya fokus dan produktivitas.
Contoh doomscrolling adalah membaca berita buruk selama berjam-jam atau terus menonton video TikTok tanpa henti hingga lupa waktu.
Cara mengatasi doomscrolling dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang terpercaya, serta melakukan aktivitas di luar layar.

